Jumat, 19 Oktober 2012

Petuah Raja Wajo


Amanat Arung Matowa Wajo La Mungkace’ To Uddama
Kabupaten Wajo adalah salah satu kabupaten dalam lingkup wilayah Propinsi Sulawesi Selatan. Di sekitar tahun 1450 di daerah ini pernah berdiri sebuah kerajaan yang dinamai Kerajaan Wajo sebagai kelanjutan dari Dinasti Cinnatobi, rajanya disebut Arung Matowa Wajo dan rakyatnya disebut To Wajo.
Di akhir pertengahan kedua Abad ke XVI sampai awal pertengahan pertama Abad XVII, Kerajaan Wajo dipimpin oleh seorang raja yang dikenal amat bijaksana dan meninggalkan banyak pesan sebagaimana tercatat dalam Lontaraq. Arung Matowa Wajo yang penulis maksud adalah Matinroe ri Kannana, yang pernah ‘diselamatkan’ oleh Dr. B. F. Matthes dalam “Makassar Chrestomathie” yang terbit dan dicetak di Amsterdam, tahun 1860.
Nama sebenarnya La Mungkace To Uddamang, adalah Arung Matowa Wajo XI. Di masa kekuasaannya, turut terlibat dalam pembentukan ‘triple alliance’ antara Bone Soppeng dan Wajo, suatu persekutuan tiga kerajaan bugis dalam mengantisipasi serangan militer Kerajaan Gowa. Persekutuan Bone, Soppeng dan Wajo tersebut lebih masyhur dengan sebutan “Tellumpocoe” atau biasa juga disebut “Lamumpatue ri Timurung”. Setelah wafat, beliau mendapat gelar anumerta, “Matinroe ri Kannana”, yang artinya yang wafat bersama dengan perisainya.
Pesan Arung Matowa Wajo La Mungkace’ To Uddama tersebut adalah sebagai berikut :
“Nakana Arung Matowa nikanaya Matinroa ri Kannana, Pappasanna ri ana’na : Iapa antu Patuppu batu makaappakabaji’ bu’ta, amballakiai nawa – nawa appaka. Se’remi, malambusuka ; naia nikanaya malambusu’, nikasalaia namammopporo’. Makaruana, mangngasenga, iapa nikana mangngaseng, ancinikai bokona, Makatalluna, barania. Iapa nikana barani, tata’bangkaya nawa – nawana nabattui kana – kana makodi, kana – kana mabaji’. Makaappa’na, malammoroka ; iapa nikana malammoro’, mapainunga riallo ribangngi”.
“Berkata Arung Matowa, yang bernama Matinroa ri Kannana, amanatnya kepada anaknya, “Seseorang baru dapat dinamai ‘patuppu batu’, jika dapat memperbaiki tanah (Negara), sekiranya ia memiliki keempat pikiran ini. Pertama, lurus hati. Adapun yang dikatakan lurus hati yaitu  kalau orang bersalah  kepadanya dan diampuninya. Kedua, Berpengetahuan, yaitu yang melihat (memperhatikan) belakangnya (akibat perbuatannya). Ketiga, Berani, yaitu sekiranya tidak terkejut hatinya didatangi (mendengar) kata – kata buruk dan kata – kata baik. Keempat, Pemurah , yaitu sekiranya memberi minum siang dan malam”.
“Kaiapa nikana patuppu batu, tatintoa matanna riallo ribangi a’nawanawai. Napunna uru appanaung taua bine, a’barataki sampulu bangngi. Makaruanna, punna uruma’rappo asenta a’barataki salapang bangngi. Iapa antu patuppu batu, taenaya makodi bonena balla’na.”
“Seorang dapat dinamai “pattuppu batu”, sekiranya ia tak tidur matanya siang dan malam memikirkan rakyatnya dan kalau orang mulai menurunkan tanaman padi (mulai bertanam padi), ia berkabung sepuluh hari ; yang kedua kalau padi kita mulai berbuah kita berkabunglah Sembilan malam. Seorang dinamai pattuppu batu, sekiranya seisi rumahnya tak ada yang jahat”.
“Naia antu nawa – nawaya patambuangngangi arena. Uru – uruna, nawa – nawa pepe’ arena. Makaruanna nawa – nawa dje’ne arena. Makatallunna, nawa – nawa anging arena. Makappa’na, nawa – nawa butta arena. Naia nawa – nawa pepeka, lompoi gau’na, natanacinika bokona, teai nusauru’ risangkammanna, iamami angkana kalengna annaba gau’na, annaba tangara’na, la’bu nawa – nawanna, barani. Naia nawa – nawa je’neka, angngassengi, natamalambusa. Naia antu nawa – nawa anginga a’gau magassingi natania lambusu’ nakimbolong. Naia antu nawa – nawa buttaya, lambusuki namangngaseng.”
“Adapun pikiran itu ada empat jenisnya. Pertama, pikiran api namanya ; kedua, pikiran air namanya ; ketiga, pikiran angin namanya, keempat, pikiran tanah namanya. Adapun pikiran api itu, besar perbuatan kelakuannya akan tetapi tak diperhatikan akan akibat – akibatnya ; ia tak sudi dialahkan oleh sesamanya ; hanya dialah menurut pendapatnya, yang benar perbuatan dan kelakuannya, yang benar pikirannya, yang panjang akalnya dan yang berani. Adapun pikiran air itu, berpengetahuan, akan tetapi tak lurus hati. Adapun pikiran angin itu, berbuat dengan kekerasan (dengan sekehendak hati), akan tetapi tidak dengan maksud lurus (baik). Adapun pikiran tanah itu lurus hati dan berpengetahuan.”
“Talomo – lomo sikaliai antu bicaraya nikabangngoi. Napunna nia’ nisala bicaraya, tappu’ korro’-korroki tuma’bicaraya ; mapanraki buttaya ; tattompangi assunna, nipasai pa’dinginnna, nipasoloro’ alunna, natimboi ruku’ – ruku’ pallunna ; puttai tawa ; akanrei pepe’ pa’rasanganga ; tammanakkai tawa ; mammongi tedonga ; tapoleni tinananga, lelasaki rappo rappo kayu nilamunga”.
“Adapun ‘Bicara’ (Peraturan) itu tak boleh sekali – kali orang bodoh terhadapnya, artinya tidak memahaminya. Kalau peraturan itu salah dijalankan, orang yang menjalankannya itu harus putus kerongkongannya (disembelih sampai mati), negeri akan rusaK, lesungnya tertelungkup, nyirunya tergantung, alunya tersimpan (menandakan bahwa tak ada yang akan ditumbuk, karena padi tak tumbuh dan tak berbuah). Dapurnya ditumbuhi rumput – rumputan (menandakan bahwa orang tak pernah lagi memasak pada dapur tersebut, karena tak ada lagi yang dapat dimasak). Manusia akan punah ; negeri akan dimakan (dimusnahkan) oleh api ; orang – orang (penduduk) tak akan beranak ; kerbau menjadi mandul (tak dapat berkembang biak) ; tanaman tidak menjadi pohon ; pohon – pohon yang ditanam gugur buahnya (berarti tak dapat mendatangkan hasil).”
“Napunna nitaba tappu’na bicaraya, anjari tinananga, lab’bu umuru’na tuma’bicaraya ; anjari tau jaia, kalumannyangi tu-mapa’rasanganga ; napunna anjari asea tuju taunna, rassi irawa irate karaeng ma’gauka ; napunna ta’bangkang anjari asea a’lonjo – lonjo sampulo taunna, rassi iratei – irawa tuappa’rasanganga ; napunna appaenten bundu’ tumalompoa, longgangi nileo talluntaung. ”
“Dan kalau kita “mengena putusan peraturan” (menjalankan peraturan sebagaimana mestinya), maka tanaman akan menjadi, orang yang menjalankan pemerintahan akan panjang umurnya ; orang banyak (rakyat) akan bertambah banyak ; penduduk akan menjadi kaya. Dan kalau padi menjadi dalam masa tujuh tahun, maka raja yang bertakhta itu akan penuh dibawah dan diatas (akan beroleh penuh kesejahteraan dan keselamatan). Dan kalau tiba – tiba padi menjadi baik dalam masa sepuluh tahun berturut – turut, maka rakyat akan menemui kesejahteraan dan keselamatan yang sepenuhnya. Dan sekiranya pembesar – pembesar mengadakan perang, dapat leluasa dikepung tiga tahun (artinya walaupun negerinya dikepung tiga tahun lamanya, dapat juga mereka hidup dengan leluasa, tidak mengalami kesukaran apa – apa).”
13090931861548518357
Pintu gerbang Kabupaten Wajo di malam hari. Disana tertulis falsafah To Wajo. (foto : google)
Demikianlah beberapa perkataan dari Matinroe ri Kannana, sebagai wasiat / warisan kepada generasinya, tentunya banyak hal yang bisa kita petik dalam perkataan Raja Wajo ini, paling tidak gambaran kebijaksanaannya yang mewarnai semangat zamannya dan dalam menjalankan roda pemerintahan era Kerajaan Bugis masih berlangsung. Pesan Raja Wajo ini kembali saya angkat sebagai penegasan bahwa di zaman kerajaan Wajo masa lampau pun telah diajarkan dengan sangat baik prinsip – prinsip kepemimpinan, demokratisasi dan penegakan hukum, supaya menjadi pelajaran bagi generasi sekarang.(*)

Perjanjian Tellumpoccoe


Perjanjian dalam Sejarah Sulsel
1301391074825751283
Arung Palakka, Koningh Der Bougies. Perjuangannya membebaskan rakyat Bone-Soppeng dari ‘Penjajahan’ Gowa banyak diwarnai dengan Ulu Ada (Perjanjian) dalam Abad 17. (ist)
MASYARAKAT Bugis Makassar adalah masyarakat yang suka membuat perjanjian (Bugis : Ulu Ada’, Makassar : Ulu Kana), bukan hanya dalam kehidupan sosial, tetapi juga dalam konteks kehidupan politik berpemerintahan. Terbentuknya kerajaan dan diangkatnya Tomanurung menjadi raja pertama dalam banyak catatan lontaraq selalu diawali dengan perjanjian atau kontrak politik, sebuah ikatan janji antara pemimpin dengan rakyatnya. Ini berarti sudah ada rekam jejak kehidupan demokratis di masa lampau meski pemerintahan berjalan atas dasar sistem kerajaan.
Secara harfiah, Ulu Ada’ (Bugis) atau Ulu Kana (Makassar) berarti pangkal pembicaraan.  Kata ini dimaknai sebagai Perjanjian. Misalnya Perjanjian di Tamalate (Makassar : Ulu Kanayya ri Tamalate’, Bugis : Ulu Adae’ ri Tamalate). Saya periksa semua kata yang digunakan untuk menamai suatu perjanjian antar raja dan kerajaan, umumnya menggunakan kata “Ulu“ (kepala) dan “Cappa“ (Ujung). Penggunaan dua kata ini bermakna sangat serius atau menegaskan bahwa perjanjian yang dilakukan bukanlah suatu hal yang main-main, karena itu harus sama – sama ditaati. Orang atau raja yang melanggar perjanjian biasanya akan diumpat sebagai seseorang yang tidak punya kepala (Ulu). Biasa kita mendengar ungkapan yang menyatakan, “tau tena kulle nitanggala ulunna“ atau “tau tena kulle niteteng ulu kananna“, yang berarti umpatan terhadap seseorang yang tidak bisa dipegang kata – katanya.
Dalam pemahaman yang lain, Perjanjian dalam bahasa bugis disebut Ulu Ada’. Penggunaan kata ini saya berusaha memahaminya bahwa suatu perjanjian bukan hanya sekedar memegang kata – kata, tetapi juga berarti memegang adat atau ‘pangngaderreng’ karena adat menganjurkan seseorang itu lempu’ dan getteng (jujur dan teguh hati).  Jadi, seseorang yang melanggar perjanjian dapat diumpat sebagai seseorang yang juga tidak beradat, dalam pemahaman Bugis. Mungkin ini pulalah sebabnya kenapa dalam perjanjian persahabatan atau gencatan senjata, selalu dimasukkan butir atau pasal agar yang berjanji sama – sama memegang teguh adat masing – masing dan tidak merusak adat negeri lain. Biasa pula diungkapkan dengan bahasa,“tidak mencampuri urusan dalam negeri masing – masing“, karena tiap negeri punya adat yang berbeda, termasuk diantaranya tidak boleh mencampuri pewarisan takhta (ulaweng matasa pattola malampe).
Contoh mengenai hal ini dapat dilihat pada Perjanjian Tamalate (Bugis : Ulu Adae’ ri Tamalate, Makassar : Ulu Kanayya ri Tamalate) pada masa pemerintahan Raja Bone VI, La Uliyo Botee Matinroe ri Itterung (1519 – 1544) dan Raja Gowa IX, Daeng Matanre Karaeng Tumapakrisika Kallonna (1512-1548). Ulu Adae ri Tamalate yang terjadi pada Tahun 1540 ini merupakan perjanjian persahabatan antara Gowa dengan Bone. Pasal – pasal dalam Perjanjian ini melukiskan betapa indahnya persaudaraan antara Bone dengan Gowa, dua kerajaan terkemuka penguasa semenanjung barat dan timur jazirah Sulawesi Selatan. Namun masa damai antara keduanya hanya berlangsung selama 24 Tahun (1538 – 1562), sebelum terjadinya serangan militer pertama Gowa ke Bone pada tahun 1562 yang didahului dengan peristiwa sabung ayam ’Manu Bakkana Bone vs Jangang Ejana Gowa’. (lihat catatan : Manu’)
Sebagaimana perangnya yang luar biasa, masa perang Gowa Vs Bone berlangsung dari tahun 1562 – 1611 sampai tiba masanya Arung Palakka menggandeng Speelman (Belanda) memerdekakan Bone-Soppeng dari Penjajahan Gowa, persahabatan yang dilalui Gowa dan Bone juga sangat luar biasa. Peristiwa pembukaan hubungan diplomatik pertama antara Gowa dan Bone (1538) bahkan diupacarakan dengan acara memperhadapkan senjata sakti kedua kerajaan, Lateariduni (kelewang arajang, senjata pusaka) Bone dan Sudanga (kelewang kalompoang, senjata pusaka) Gowa di Laccokong dimana Raja Gowa pertama kali menginjak Tana Bone. Kunjungan balasan Raja Bone, La Uliyo Botee ke Gowa inilah yang kemudian melahirkan “Ulu Adae ri Tamalate“ yang bunyi perjanjiannya juga sangat luar biasa :
1. Narekko engka perina Bone, maddaungngi tasie naola Mangkasae, Narekko engka perina Gowa makkumpellei bulue’ naoia to Bone.
(Kalau Bone terancam bahaya musuh, maka berdaunlah lautan dilalui orang Makassar, kalau Gowa terancam bahaya musuh maka ratalah gunung dilalui orang Bone).
2. Tessinawa – nawa majaki, tessipatingarai kanna Bone Gowa, tessiacinnaiyangngi matasa pattola malampe.
(Tidak akan saling berprasangka buruk, tidak akan saling menyerang, Bone-Gowa, dan tidak akan mencampuri urusan dalam negeri).
3. Iyyasi somperengngi Gowa, iyyasi manai ada torioloe, iyyasi somperengngi Bone, iyyasi manai ada torioloe’.
(Siapa saja yang melayarkan bahtera Gowa, maka dialah yang mewarisi amanat leluhur ini dan siapa saja yang melayarkan bahtera Bone, maka dialah yang mewarisi amanat leluhur ini).
4. Niginigi temmaringngerang riada torioloe, mareppai urikkurinna, lowa – lowanna, padai tello riaddampessangnge ri batue tanana.
(Siapa saja yang tidak mengingat amanat leluhur ini maka pecahlah periuk belanganya, negeri, seperti telur dihempaskan ke atas batu).
Perjanjian ini saya anggap suatu perjanjian yang luar biasa, butir – butir perjanjian ini seandainya dilaksanakan oleh penerus takhta Gowa dan Bone, sejarah akan bercerita lain. Namun, kata banyak orang, perjanjian memang dibuat untuk dilanggar. Dan di banyak catatan lontaraq, akhirnya kitapun mendapati puluhan perjanjian yang mengiringi Ulu Adae ri Tamalate ini. Ada perjanjian yang disebut Ulu Kanayya ri Caleppa (Bugis : Ulu Adae ri Caleppa) sebagai buntut serangan militer keempat Gowa ke Bone (1565) yang berakhir dengan gencatan senjata. Perang yang dimenangkan oleh Bone tersebut kemudian diperbaharui lagi perjanjiannya lewat suatu kesepahaman bersama, yang oleh Gowa disebut Kana-kanayya iwarakanna Bone (Perjanjian di Utara Bone).
Perjanjian – perjanjian lainpun terus berlanjut. Pihak Bone pun kemudian memprakarsai pembentukan triaple alliance, “Mattellumpocoe ri Timurung“ (1572), antara Bone, Soppeng dan Wajo sebagai penyatuan kekuatan bugis mengantisipasi serangan Gowa yang semakin menggila ingin menjadi penguasa tak tertandingi di semenanjung barat dan timur Sulawesi Selatan. Berdasarkan pengalaman pahit dari tahun ke tahun yang harus dilalui Bone akibat serangan militer Gowa dan gangguan militer Luwu, maka Raja Bone La Tenrirawe Bongkangnge didampingi oleh penasehat ulung kerajaan, Kajao Laliddong, berupaya memperkuat benteng pertahanan Bone untuk menghadapi kemungkinan serangan militer Gowa dan Luwu. Dengan pendekatan diplomatik La Tenrirawe Bongkangnge berhasil membentuk kekuatan bersama antara Bone, Soppeng dan Wajo, di Kampung Bunne Timurung, Bone Utara pada tahun 1572.
Upacara pembentukan triple alliance tersebut dihadiri oleh delegasi dari masing – masing kerajaan dari Bone, Soppeng dan Wajo : Kerajaan Bone, diwakili langsung oleh rajanya La Tenrirawe Bongkangnge, pensehat kerajaan Kajaolaliddong dan pembesar – pembesar Kerajaan Bone lainnya, Kerajaan Wajo, dipimpin langsung oleh La Mungkace Touddamang Arung Matowa, Pillae, Cakkuridie, Pattolae, dan pembesar – pembesar Kerajaan Wajo lainnya, dan Kerajaan Soppeng, diwakili oleh La Mappaleppe Pong Lipue, Datu Soppeng Arung Bila, Arung Pangepae, dan Arung Paddanrenge”.
Tellumpoccoe ri Timurung menetapkan prinsip – prinsip kesepakatan sebagai berikut :
1. Malilu sipakainge, rebba sipatokkong, siappidapireng riperi nyameng ;
(Memperingati bagi mereka yang tidak mentaati kesepakatan, saling menegakkan jika ada yang tersungkur dan saling membantu dalam suka duka).
2. Tessibaiccukang, tessiacinnaiyang ulaweng matasa, pattola malampe, waramparang maega pada mallebang risaliweng temmallebbang ri laleng.
(Tidak akan saling mengecilkan peran, tidak akan saling menginginkan perebutan takhta dan penggantian putera mahkota dan tidak saling mencampuri urusan dalam negeri masing – masing).
3. Teppettu – pettu siranreng sama – samapi mappettu, tennawawa tomate jancitta, tennalirang anging ri saliweng bitara, natajeng tencajie. Iya teya ripakainge iya riduai, mau maruttung langie, mawoto paratiwie, temmalukka akkulu adangetta, natettongi Dewata Seuwae .
(Tidak akan putus satu – satu melainkan semua harus putus, perjanjian ini tidak batal karena kita mati dan tidak akan lenyap karena dihanyutkan angin keluar langit, mustahil terjadi. Siapa yang tidak mau diperingati, dialah yang harus diserang kita berdua. Walaupun langit runtuh dan bumi terbang, perjanjian ini tidak akan batal dan disaksikan oleh Dewata SeuwaE).
4. Sirekkokeng tedong mawatang, sirettong panni, sipolowang poppa, silasekeng tedong siteppekeng tanru tedong.
(Saling menundukkan kerbau yang kuat, saling mematahkan paha, saling mengebirikan kerbau. Artinya mereka akan saling memberikan bantuan militer untuk menundukkan musuh yang kuat).
5. Tessiottong waramparang, tessipalattu ana parakeana.
(Tidak akan saling berebutan harta benda dan berlaku bagi generasi penerus).
Substansi kesepakatan perjanjian diatas menunjukkan bahwa ketiga kerajaan, Bone, Soppeng dan Wajo secara sadar membentuk pakta pertahanan militer untuk menghadapi musuh bersama mereka. Dengan demikian Tellumpoccoe ri Timurung merupakan kekuatan ketiga di kawasan Sulawesi Selatan disamping Gowa dan Luwu pada masa itu.
Perjanjian “Mattelempoccoe ri Timurung“ pun mengalami pasang surut kesepahaman diantara ketiga kerajaan tersebut hingga melahirkan lagi perjanjian – perjanjian kecil seiring perkembangan kekuasaan di semenanjung timur serta ekspansi yang luar biasa dari Kerajaan Gowa. Di belakang hari, Wajo memisahkan diri dan mengakui Karaeng Gowa sebagai penguasa atasannya. Arung Palakka sendiri sebelum melarikan diri ke Buton masih sempat mengadakan perjanjian di Atappang yang disebut “Pincara Lopie’ ri Atappang“ (1660) sebagai upaya mempersatukan kembali Bone dan Soppeng dalam melawan Gowa.
Raja Gowa Sultan Alauddin (Daeng Manrabia Tumenanga ri Gaukanna) sendiri memakai Ulu Ada’ (Perjanjian) masa lalu, antara kerajaan Makassar dengan Kerajaan-kerajaan Bugis di semenanjung timur yang menyebutkan bahwa “Siapa saja kelak yang mendapatkan petunjuk dan jalan hidup yang lebih baik, maka yang satu harus memberitahukan yang lain“. Atas dasar Ulu Ada’ inilah yang dipakai sebagai alasan perang pengislaman yang dalam sejarah disebut “Bundu Kasallangan“ (Bugis : Musu Sellenge’) untuk mengislamkan kerajaan – kerajaan lain yang belum memeluk Islam.
Raja Gowa (Karaeng Gowa)  menganggap bahwa Ulu Ade’ itu harus diberlakukan dan ditaati, dan jalan hidup yang lebih baik itu adalah Islam. Meskipun Raja Bone La Tenrirua memahami dan menyetujui maksud pengislaman tersebut namun rakyat dan Dewan Hadat Bone tidak menaatinya. Bagi rakyat Bone, dengan serangan militernya bertahun – tahun sampai kemudian ditaklukkan Bone oleh Gowa (1611) menganggap bahwa apa yang dilakukan Karaeng Gowa tak lebih dari sebuah bentuk penjajahan suatu negara terhadap negara yang berdaulat. Belum lagi pengerahan tenaga kerja paksa sebanyak 40.000 rakyat Bone – Soppeng ke Gowa dalam membangun Benteng – benteng Makassar adalah fakta lain yang sangat menyakitkan Bone – Soppeng.
Penindasan dan kerja paksa ribuan rakyat Bone – Soppeng inilah yang kemudian membangkitkan semangat perlawanan Arung Palakka dalam membebaskan negerinya dari penjajahan Gowa. Dalam Sejarah perlawanan dan pelarian Arung Palakka baik di negeri sendiri, di Buton maupun saat berada di Batavia, ada begitu banyak perjanjian / ikrar dan sumpah yang tercipta, sebagai bentuk penegasan rakyat dan kesetiaannya atas tekad dan semangat Petta Malampeq Gemmekna ini.  Keberhasilan Arung Palakka menggandeng Speelman (Belanda) yang kemudian cerita sejarah ini berakhir pada “Cappaya ri Bungaya“ (Perjanjian Bungaya), tahun 1660. Pada saat itu, imperium besar, kerajaan terbesar di Indonesia Timur, Kerajaan Gowa perlahan – lahan menuju titik kehancuran.  (*)

Raja Bone XIV


Raja Bone XIV
La Tenriaji To Senrima
LA Tenriaji Tosenrima (1640 – 1643) menggantikan saudaranya La Maddaremmeng Matinroe’ ri Bukaka menjadi Arung Mangkau’ Bone. Dialah yang melanjutkan perlawanan Bone terhadap Gowa, namun kenyataannya Bone kembali mengalami kekalahan. Karena pada perang ini Gowa ternyata dibantu oleh Luwu dan Wajo. Pertahanan terakhir Arumpone La Tenriaji Tosenrima adalah Pasempe’, sehingga dikatakan Beta Pasempe’ (1646).
Dalam Perang Pasempe, La Tenriaji diserang dari tiga pihak laskar, Wajo dan Luwu menyerang dari utara dan laskar Gowa menyerang dari selatan lewat jalur laut. Pasukan La Tenriaji bertahan di Pasempe, namun gelombang serangan Gowa dan sekutunya sungguh dahsyat. Bone akhirnya kalah dan La Tenriaji ditawan lalu diasingkan ke Siang (Pangkajene sekarang ini). Kekalahan Bone ini yang akhirnya membuat wilayahnya dibagi tiga, sebahagian diambil oleh Gowa, sebahagian diambil Luwu dan sebahagian diambil oleh Wajo.
Paska Perang, semua bangsawan Bone ditawan, termasuk La Pottobune’ bersama isteri dan anaknya. Selebihnya diberikan kepada Luwu dan Wajo. Adapun yang menjadi milik Wajo tetap berada di Bone, sebab Wajo masih ingat Ulu Ada’ (perjanjian) dengan Arung terdahulu bahwa ”Yang rebah akan ditopang, yang hanyut akan diraih” sebagaimana isi Lamumpatue’ ri Timurung yang pernah disepakati TellumpoccoE. Arung Matowa Wajo La Makkaraka mengatakan, ”Bahagian Wajo yang pergi ke Gowa adalah milik Gowa, bahagian Luwu yang pergi ke Wajo tetap milik Luwu. Sedang bahagian Wajo di Bone tetap milik Bone, kecuali dia sendiri yang datang ke Wajo, barulah milik Wajo”. Permintaan ini akhirnya disetujui oleh KaraengE dan Datu Luwu. (Kasim, 2002 dalam Makkulau, 2009).
Ketika La Tenriaji Tosenrima ditangkap dan dibawa ke Gowa, diikutkanlah semua anak bangsawan Bone lainnya. Setelah itu Bone dibakar oleh orang Gowa, menjadilah Bone sebagai wilayah jajahan Gowa dan seluruh rakyatnya dijadikan ata’ (budak), sedang bangsawannya dibagi kepada Hadat Gowa (Bate Salapang) untuk dijadikan hamba pula. Yang tidak tertawan hanyalah anak kecil, orang tua lanjut umur, kecuali atas permintaan orang tuanya. La Pottobune’ Arung Tanatengnga, isteri dan anak-anaknya tinggal di rumah KaraengE selama ditawan, ketika itu La Tenri Tatta baru berusia 11 tahun. Karena seorang yang cerdas sehingga banyak yang menyukainya, semua anggota Bate Salapang pernah ditempatinya.
Karena La Tenriaji Tosenrima diasingkan ke Siang, maka KaraengE kemudian mengangkat raja boneka di Bone. Pengangkatan Arung Mangkaue di Bone selanjutnya diserahkan kepada KaraengE karena orang Bone tidak berani lagi menunjuk seorang raja. KaraengE ri Gowa kemudian menunjuk Karaeng Summana untuk melaksanakan pemerintahan di Bone, namun karena selalu dironrong pemerintahannya maka kembalilah Karaeng Summana ke Gowa. Kepada KaraengE, Karaeng Summana melaporkan ketidak mampuannya menghadapi orang Bone. Sejak saat itu sempat terjadil kevakuman pemerintahan di Bone, sementara itu La Tenriaji Tosenrima meninggal dunia di Siang sehingga digelari Matinroe ri Siang. (Makkulau, 2009)
Menurut catatan lontaraq’, La Tenriaji Tosenrima hanya mempunyai seorang anak yang bernama La Pabbele Matinroe’ ri Batubatu. Inilah yang melahirkan Daeng Manessa Arung Kading. Selama beberapa waktu tidak ada pengganti La Tenriaji Tosenrima MatinroE ri Siang sebagai Arumpone. Orang Bone dan segenap anggota Hadatpun sudah tidak mau menunjuk seorang Mangkaue’. Sementara KaraengE ri Gowa juga ragu untuk mengangkat seorang Arung kalau bukan yang diinginkan oleh orang Bone. Oleh karena itu, KaraengE ri Gowa hanya menunjuk seorang jennang (pelaksana) yang memiliki wewenang sebagai pengganti Mangkau’ di Bone. (***)

Raja Bone ke VII


Riwayat Raja Bone (7): La Tenri Rawe Bongkangnge’
1303266915587155418
Makam Raja - raja Bone di Bukaka, Watampone. (foto : google).
LA Tenri Rawe BongkangE naik takhta sebagai Raja Bone VII menggantikan ayahnya La Uliyo Bote’E, Raja Bone VI. La Tenri Rawe kawin dengan We Tenri Pakiu Arung Timurung MaccimpoE anak dari La Maddussila dengan isterinya We Tenri Lekke. Dari isterinya Arung Timurung melahirkan La Maggalatung yang dipersiapkan sebagai ana’ pattola, namun meninggal dunia semasa kecil. Anak kedua La Tenri Sompa dipersiapkan menjadi Arung Timurung, tetapi juga meninggal karena dibunuh oleh seorang bernama Dangkali.
Ketika menjadi Mangkau’ di Bone, La Tenri Rawe sangat dicintai rakyatnya karena memiliki Sifat - sifat terpuji : berbudi pekerti yang baik, jujur, dermawan, adil dan sangat bijaksana. Dia tidak membedakan antara keluarganya yang memiliki turunan bangsawan dengan keluarganya dari orang biasa. Arumpone La Tenri Rawe-lah yang pertama kali membagi dan menata struktur pemerintahan lebih baik (makkajennangeng) seperti: yang bertugas mengurus jowa (pengawal), yang bertugas mengurus anak bangsawan dan yang mengurus wanua (daerah).
Dimasa kekuasaannya, Gowa mengingkari Ulu Ada’ (perjanjian) pendahulunya dan melakukan serangan militer sebanyak empat kali. Serangan militer pertama dalam tahun 1562 merupakan buntut pertemuan kenegaraan antara Raja Bone dan Gowa yang dimeriahkan dengan sabung ayam. Taruhan Raja Gowa sebesar 100 kati emas, sedang Raja Bone sendiri mempertaruhkan segenap orang Panyula (satu kampong). Ayam sabungan Gowa berwarna merah, ayam sabungan Gowa mati terbunuh oleh ayam sabungan Bone”. Peristiwa sabung ayam kedua raja yang sedang menanjak pengaruhnya di semenanjung barat dan timur ini bukanlah sabung ayam biasa, melainkan sabung ayam yang mempertandingkan kesaktian dan kharisma Raja Bone dengan Raja Gowa. (Kasim, 2002 dalam Makkulau, 2009).
Kematian ayam sabungan Raja Gowa merupakan fenomena kekalahan kesaktian charisma Raja Gowa oleh Raja Bone sehingga Tragedi ini dipandang sebagai Siri’. Sabung ayam itu sendiri menempatkan Bone dalam posisi psikologis yang kuat terhadap kerajaan – kerajaan kecil disekitarnya yang dengan sukarela menggabungkan diri sebagai palili (bawahan) Bone. Negeri Ajangale’, Awo, Teko dan Attassalo menyatakan diri bergabung. Tellu Limpue juga datang menggabungkan Babanna Gowa di Bone dan didudukkanlah sebagai palili Bone. Hal ini membuat KaraengE ri Gowa (Raja Gowa) bertambah marah sepulang ke Gowa langsung mempersiapkan serangan militer ke Bone. (Makkulau, 2009).
Pengintegrasian Tellu Limpoe dengan Bone, dijadikan dalih Gowa melancarkan serangan militer melalui jalan darat via Camba dengan jalan kaki atau naik kuda. Serangan Gowa selanjutnya selalu naik perahu via Teluk Bone. Perang tersebut diakhiri dengan gencatan senjata. Paska Perang itu, Datu Soppeng Rilau La Makkarodda To Tenri Bali MabbeluwaE yang diturunkan dari takhtanya datang ke Bone untuk minta perlindungan. Di Bone, ia kawin dengan saudara Arumpone We Tenri Pakkuwa. Dari perkawinannya itu lahirlah We Dangke atau We Basi LebaE ri Mario Riwawo. Saudara Arumpone We Lempe kawin dengan sepupu dua kalinya La Saliwu Arung Palakka. Dari perkawinannya itu melahirkan La Tenri Ruwa MatinroE ri Bantaeng yang kawin dengan sepupu satu kalinya bernama We Dangke. La Tenri Ruwa adalah nenek Arung Palakka MatinroE ri Bontoala.  (Lontaraq Akkarungeng ri Bone dalam Makkulau, 2009).
Ambisi Gowa untuk menaklukkan Bone tak pupus. Tak lama setelah itu Gowa kembali melancarkan serangan militer kedua dan terjadilah perang di Cellu selama lima hari lima malam dan orang Gowa mundur. Perang ini terjadi dalam tahun 1563. Dua tahun kemudian Gowa menyerang lagi. Kali ini perang berlangsung tujuh hari tujuh malam, pasukan Gowa mengambil tempat pertahanan di Walenna, namun dalam serangan militer ketiga (1565) ini Raja Gowa tiba-tiba terserang penyakit yang membuatnya harus kembali ke Gowa. Konon, ketika sampai di Gowa ia pun meninggal dunia.
Serangan Gowa yang bertubi – tubi itu sudah cukup menjadi alasan bagi Bone untuk melakukan serangan balasan terhadap Gowa. Namun sejauh itu Bone tetap bersikap defensif. Pengganti Raja Gowa Daeng Bonto, I Tajibarani Daeng Manrumpa Karaeng Data Tunibatta (1565), lebih berambisi lagi untuk menaklukkan Bone. Dengan kekuatan angkatan perang yang lebih besar daripada serangan (ke-1, ke-2, dan ke – 3), I Tajibarani menyerang Bone. Hanya kurang dua bulan kemudian, serangan militer kembali digencarkan. Mendengar Gowa kembali, maka seluruh orang Ajangale’ dan orang Timurung datang membantu Bone, Begitu pula orang Limampanua Rilau Ale’ yang berkedudukan di Cinennung dan orang Awampone berkedudukan di Pappolo berdekatan dengan benteng pertahanan KaraengE ri Gowa. Terjadilah perang yang sangat dahsyat. Orang Gowa menyerbu ke arah selatan, membakar Kampung Bukaka dan Takke Ujung. (Kasim, 2002).
Serangan militer keempat Gowa dalam tahun 1565 tersebut dilukiskan BF Matthes dalam, ”Boegineesche Chrestomathie” sebagaimana dikutip dalam Sejarah Bone (Abdur Razak Dg Patunru, tt) sebagai berikut, ”Begitu hebat serangan laskar Gowa kali ini, sehingga beberapa daerah bawahan Kerajaan Bone dapat didudukinya antara lain Ajangale dan Awangpone. Gowa membangun bentengnya di Pappolo. Serangan laskar Gowa kali ini luar biasa, bertambah luas Daerah Bone dikuasai dalam waktu singkat, sampai – sampai dapat menerobos masuk ke Bukaka dan Takke Aju’. Pada hari yang terakhir matahari agak condong ke barat, saat laskar Gowa menghalau ternak dan harta rampasannya, dapat dicegat lasykar Bone yang jumlahnya cukup besar. Banyak lasykar Gowa yang gugur pada waktu itu. Akhirnya Raja Gowa XI, I Tajibarani Daeng Manrumpa Karaeng Data, terpancung oleh laskar Bone, yang menyebabkan Raja Gowa tewas di medan laga. Prajurit Bone yang berhasil memancung Raja Gowa ini bernama La Tunru”. (Kasim, 2002 dalam Makkulau, 2009).
Dengan gugurnya I Tajibarani, Raja dan panglima pasukan Kerajaan Gowa, maka lasykar Gowa menyerah tanpa syarat. Maka diadakanlah perjanjian perdamaian di Caleppa (lokasi Caleppa 4 km di sebelah utara Watampone) di akhir Tahun 1565 yang dikenal dengan nama ”Ulu adae ri Caleppa”, dihadiri oleh delegasi Bone, KajaoLaliddong dan Raja Bone La Tenrirawe Bongkange, serta delegasi Gowa, Mangkubumi Gowa (Raja Tallo) I Mappataka Tana Daeng Padulung. Dalam perjanjian itu ditetapkan : (1) Bone meminta kemenangan – kemenangan, yaitu kepadanya harus diserahkan daerah – daerah sampai ke Sungai Walanae di sebelah barat dan sampai di daerah Uloe di sebelah utara. (2) Sungai Tangka akan menjadi perbatasan daerah kekuasaan Bone dan daerah kekuasaan Gowa disebelah selatan. (3) Supaya negeri Cenrana masuk daerah kekuasaan Bone, karena Cenrana dahulu memang sudah ditaklukkan oleh Bone yang bernama ‘La Tenrisukki Mappajunge’, yaitu sebagai kemenangan dalam peperangan melawan Raja Luwu yang bernama Dewaraja.
Kemenangan militer Bone atas Gowa memaksa Gowa untuk mengakui batas – batas wilayah Kerajaan Bone. Pengganti Raja Gowa, I Tajibarani ialah putera mahkota, Manggorai Daeng Mammeta Karaeng Bontolangkasa Tunijallo (1566 – 1591), menerapkan pendekatan diplomatik dan sikap lunak terhadap Bone. Bone dan Gowa mengaktualisasikan kembali Perjanjian Tamalate tahun 1540. Dual entente antara Gowa dengan Bone yang kedua ini (1566) menetapkan : (1) Musuh salah satu diantara mereka adalah musuh bersama, (2) Orang Gowa yang ke Bone atau orang Bone ke Gowa, adalah seperti mereka datang ke negerinya sendiri. Raja Gowa, Karaeng Bontolangkasa mengubah politik luar negerinya terhadap Bone dari pendekatan militer menjadi pendekatan diplomatik, dari sikap bermusuhan menjadi sikap bersahabat, menciptakan kondisi hidup berdampingan secara damai.
Pada saat itu terjadi pula Serangan militer Luwu ke Bone, mungkin didasarkan pada prakiraan bahwa Bone masih dalam keadaan lemah akibat perang yang berkepanjangan dengan Gowa. Kemarahan Bone terhadap Luwu karena Datu Luwu Sanggariya karena Luwu naik lagi ke Cenrana. Maka wanua Cenrana telah dua kali direbut dengan kekuatan senjata (riala bessi) oleh Bone. Untuk memperkuat kedudukan Bone, Arumpone La Tenri Rawe menjalin kerjasama dengan Arung Matowa Wajo To Uddamang dan Datu Soppeng PollipuE. Maka diadakanlah pertemuan di Cenrana untuk jalinan kerjasama regional antara Bone, Soppeng dan Wajo. Di Cenrana, ketiga raja bersepakat pertemuan lanjutan di Timurung. Setelah sampai waktu yang ditentukan, maka berkumpullah orang Bone, Soppeng dan Wajo di Bunne. Inilah catatan yang menjelaskan TellumpoccoE (Bone – Soppeng – Wajo) yang terkandung dalam perjanjian La Tenri Rawe BongkangE (Bone), To Uddamang (Wajo) dan La Mata Esso’ (Soppeng).
Dalam pertemuan itu Arung Matowa Wajo bertanya kepada Arumpone ; ”Bagaimana mungkin kita hubungkan tanah kita bertiga, sedang Wajo adalah kekuasaan Gowa dan Bone juga punya hubungan dengan Gowa”. Arumpone menjawab, ”Yang menjalin hubungan disini adalah Bone, Soppeng dan Wajo. Selanjutnya Bone menjalin hubungan dengan Gowa. Kalau Gowa masih mau menguasai Wajo, maka kita bertiga melawannya”. Pernyataan Arumpone tersebut diiyakan Arung Matowa Wajo. Berkata PollipuE ri Soppeng, ”Bagus Arumpone, tanah kita bertiga bersaudara. Tetapi saya minta agar tanah Soppeng adalah pusaka tanah Bone dan Wajo. Sebab bersaudara itu berarti sejajar”. Arumpone menjawab, ”Bagaimana Arung Matowa, sebab apa yang dikatakan PollipuE adalah benar”. Arung Matowa Wajo menjawab, ”Saya kira tanah kita bertiga akan rusak apabila ada yang namanya sipoana’ (ada yang menganggap dirinya tua dan ada yang muda). Berkata lagi Arumpone, ”Saya setuju, tidak apalah saya berikan tanah kepada Soppeng untuk penambah daki, agar tanah kita bertiga tetap bersaudara”.
Berkata pula Arung Matowa Wajo, ”Bagus Arumpone, saya juga berikan Soppeng penambah daki yaitu Baringeng, Lompulle dan sekitarnya”. Datu Soppeng dan Tau TongengE berkata, ”Terima kasih atas maksud baikmu itu, karena tanah kita bertiga telah bersaudara, tidak saling menjerumuskan kepada hal yang tidak dikehendaki, kita bekerja sama dalam hal yang kita sama kehendaki”. Berkata Arumpone dan Arung Matowa Wajo, ”Kita bertiga telah sepakat, maka baiklah kita meneggelamkan batu, disaksikan oleh Dewata SeuwaE’, siapa yang mengingkari perjanjiannya dialah yang ditindis oleh batu itu”. Berkatalah Arung MatowaE ri Wajo kepada Kajao Laliddong, ”Janganlah dulu menanam batu itu, Kajao ! Sebab saya masih ada yang akan kukatakan bahwa persaudaraan TellumpoccoE tidak akan saling menjatuhkan, tidak saling berupaya kepada hal-hal yang buruk, janganlah kita mengingkari perjanjian, siapa yang tidak mau diingatkan, dialah yang kita serang bersama (diduai), dia yang kita tundukkan”.
Dengan pendekatan diplomatik, La Tenrirawe Bongkange’ berhasil menggabungkan kekuatan Bone, Soppeng dan Wajo di Kampung Bunne Timurung, Bone Utara pada tahun 1572. Dalam bahasa Bugis disebut “Mattellumpoccoe ri Timurung”. Substansi kesepakatan menunjukkan bahwa ketiga kerajaan secara sadar membentuk pakta pertahanan militer untuk menghadapi musuh bersama mereka sekaligus mengamankan daerah lumbung padi (Bone, Soppeng dan Wajo). Dengan demikian Tellumpoccoe ri Timurung merupakan kekuatan ketiga di kawasan Sulawesi Selatan disamping Gowa dan Luwu (Kasim, 2002). Di akhir hayatnya, La Tenri Rawe BongkangE digelari MatinroE ri Gucinna karena pada saat meninggal, jenazahnya dibakar dan abunya dimasukkan ke dalam guci. (***)